malaysia

Sekali Merengkuh Dayung, 2 Negara Terlampaui (part 2)

Monday, December 05, 2016

okaayyy langsung aja yaa lanjuutt~

Kamis, 10 November 2016

beruntungnya kami, Hotel Mandarin Pacific menyediakan sarapan (yeaayyy hemaatt). jadilah, pagi ini kami keluar kamar agak pagi, pukul 9 dan kemudian bergegas menuju restoran hotel untuk sarapan. variasi menunya cukup banyak. kalau mau makan berat bisa makan semacam mie gitu, entah apa namanya, sementara kalo mau makan yang agak ringan ada roti bakar, omellete, coco crunch, salad, dll. tenang aja makanannya enak-enak kok, dan Insya Allah halal karena ngga disajikan makanan berupa daging-dagingan sih.

tujuan kami hari ini ada beberapa tempat dan pagi ini dimulai dengan jalan kaki menyusuri Petaling Street. Petaling Street ini terkenal juga sebagai salah satu pusat perbelanjaan yang terdiri dari puluhan kios. yang banyak dijual di sini selain souvenir khas Malaysia, juga pakaian, sepatu, tas dengan brand-brand terkenal namun dibandrol dengan harga yang cukup murah. tapi, kalau pagi hari sih jangan harap mereka sudah buka ya. daya tarik Petaling Street dipagi hari menurut saya adalah asik buat foto-foto terutama di gapura yang bertuliskan Petaling Street. kalau malam sih jangan harap bisa foto sign-nya, jalan saja sulit saking ramainya.

Petaling Street, ga beda jauh lah sama Pasar Baru :D

dari Petaling Street kita melanjutkan perjalanan ke Pasar Seni. niatnya tentu saja nyari oleh-oleh karena Pasar Seni merupakan pusat souvenir Malaysia terbesar dan bisa dibilang terlengkap juga di Kuala Lumpur. karena kita tiba di Pasar Seni masih cukup pagi, jadilah masih banyak toko-toko yang tutup. akhirnya saya menyarankan ke Nadia untuk mendatangi Pasar Seni lagi nanti malam sembari menunggu kereta ke Gemas. Nadia setuju dan kita melanjutkan lagi perjalanan ke wilayah Dataran Merdeka.

dari Pasar Seni cukup jalan kaki saja, tidak sampai 10 menit sampailah di Dataran Merdeka. di Dataran Merdeka ada beberapa tourist attraction yang dapat dikunjungi. karena keterbatasan energi (keburu capek jalan kakak), kami hanya sempat mendatangi beberapa tempat. ada museum baru rupanya di dekat Dataran Merdeka, namanya Muzium Muzik Malaysia. disebelahnya ada tempat yang terkenal dengan sign I 💙 KL, Kuala Lumpur City Gallery. lalu ada juga Perpustakaan Umum Kuala Lumpur, Gedung Sultan Abdul Samad, kalau mau agak jalan sedikit kita bisa juga sampai di Masjid Jamek, salah satu masjid terkenal di Kuala Lumpur. btw, sekarang masuk KL City Gallery bayar RM5 yang bisa dijadikan deposit kalau kita mau beli souvenir di sana.

salah satu yang dipamerkan di Muzium Muzik Malaysia

cikgu dan murid-muridnya

Kuala Lumpur Art Gallery
 
future KL

tempat pembuatan 

sayangnya sewaktu kami ke sana, Perpustakaan Umum Kuala Lumpur sedang renovasi. padahal saya cukup menanti-nantikan kesempatan untuk berkunjung ke Perpustakaan ini lagi setelah tiga tahun berlalu. cuaca yang mulai memanas membuat kami kehilangan selera untuk berjalan-jalan disekitar sini. setelah melihat jam pun sudah hampir menunjukkan pukul setengah sebelas. karena jam 12 sudah harus check out, jadilah kami memilih kembali ke hotel untuk packing. pukul 12 kurang sedikit kita pun check out dari Hotel Mandarin Pacific.

Dataran Merdeka
Gedung Sultan Abdul Samad
Royal Selangor Club
 
tujuan kita berikutnya adalah Putrajaya. ini saya sih yang ngebet ke Putrajaya karena 3 tahun lalu ngga kesampean ke tempat ini. dari pusat Kuala Lumpur ada beberapa opsi yang bisa digunakan kalau mau ke Putrajaya. pertama, bisa naik bus langsung dari KL - Putrajaya. kedua, naik taksi. dan ketiga, naik KLIA Transit. kita memilih opsi ketiga untuk ke Putrajaya, yaitu naik KLIA Transit. KLIA Transit sebenarnya adalah layanan kereta dari dan menuju Bandara KLIA. ada 2 jenis KLIA Train sebenarnya, yaitu KLIA Transit dan KLIA Express. KLIA Express itu keretanya dari KL Sentral langsung menuju Bandara KLIA tanpa berhenti-berhenti. sementara KLIA Transit sama-sama memiliki tujuan akhir Bandara KLIA tapi berhenti dibeberapa stasiun seperti Stasiun Bandar Tasik Selatan, Stasiun Putrajaya dan Cyberjaya, Stasiun Salak Tinggi, dan Stasiun KLIA dan KLIA2. 

okaay setelah menitipkan tas di loker yang banyak tersedia di KL Sentral, kita bergegas membeli tiket KLIA Transit menuju Stasiun Putrajaya dan Cyberjaya seharga RM14. oh yaa soal loker ini, kalian bisa menemukannya di KL Sentral, letaknya di belakang tangga yang menuju ke toilet, dekat 7 eleven. ukuran loker juga beragam begitupun dengan harganya mulai dari RM10 - RM20. loker ini bisa disewa seharian sampai pukul 12 malam. waktu itu, kami menyewa loker yang seharga RM20 itu muat 2 koper besar dan 1 tas jinjing besar.

 loker koper di KL Sentral (the pic doesn't belong to me, i take it from internet)

Nadia dan Mima di dalam KLIA Transit. jadi tempat duduk di KLIA Transit itu ada yang hadap-hadapan

kurang lebih 30 menit kita tiba di Stasiun Putrajaya dan Cyberjaya. ternyata, untuk menuju pusat kota Putrajaya tidak cukup hanya dengan jalan kaki saja karena letaknya agak jauh. ada bus Nadi Putra yang bisa kita naiki dan berhenti di beberapa halte bus di sekitar Putrajaya. beruntungnya, kemarin itu Nadia punya teman yang kerja di daerah Cyberjaya. jadi lah Nadia menghubungi temannya ini. kebetulan dia lagi istirahat lunch gitu. berhubung kita juga belum makan siang, jadi kita memutuskan untuk makan siang bareng dan dia ngajakin makan di daerah Cyberjaya. entah apa lah nama resto-nya yang jelas restoran arab gitu. setelah makan siang, karena temennya Nadia (punten lupak namanya :") harus kerja lagi setelah itu, kita pun didrop di Masjid Putra, Putrajaya.

 hujan di Cyberjaya

jadi, Putrajaya dan Cyberjaya ini kotanya deketan gitu. naik mobil juga ga sampe 15 menit. and there's no traffic! kotanya sepi banget. dan menurut temennya Nadia ini juga Putrajaya dan Cyberjaya itu ramainya ya kalau weekdays gitu karena Putrajaya dirancang hanya untuk pusat pemerintahan dan Cyberjaya itu kayak pusat perusahaan teknologi gitu kali yaa. jadi yaa yang banyak itu karyawan-karyawan aja. kalo weekend banyak yang pulang ke rumah masing-masing, apalagi hari libur, katanya sepi banget.

di Masjid Putra kita numpang sholat zuhur dijamak bareng ashar. liat-liat keadaan masjid. trus jalan-jalan di sekitar masjid. bosen karena gitu-gitu aja, kita memutuskan untuk menyudahi perjalanan di Putrajaya dan kembali ke KL karena Nadia pengen ke Beryl's Chocolate Kingdom. karena tadi kita diantar, jadi kurang tahu gimana-gimana-nya naik bus di Putrajaya. sepi banget ngga ada tanda-tanda bakal ada bus umum gitu. rata-rata bus pariwisata. tanya ke bagian informasi, katanya memang ada bus yang lewat ke Stasiun Putrajaya kok. akhirnya kita pun menunggu di tempat yang diberitahukan oleh orang di pusat informasi tadi. lama banget dan saya memilih untuk jalan-jalan ke bagian lain. daripada nunggu diem mending sambil jalan kan. apa gunanya travelling kalo ngga jalan-jalan toh?

ada perpustakaan di Masjid Putra, tapi sayang minim informasi jadi agak males buat masuk.

 tampak depan Masjid Putra

Masjid Putra dari kejauhan

Perdana Putra, Istana Perdana Menteri Malaysia

 Kementerian Kewangan Malaysia

begitu sampai di halte lain kita pun nanya-nanya pekerja setempat dan ditunjukkan kalau bus ke KL ada di seberang jalan (padahal maksudnya bus ke Stasiun Putrajaya). yaudah akhirnya nyebrang dan sempet bingung juga sih harus naik bus nomor berapanya. masih tanya-tanya pekerja di sana dan informasi yang di dapet ga begitu membantu. akhirnya begitu ada bus yang berhenti, Nadia pun bertanya ke si supir apa bus tersebut lewat Stasiun Putrajaya atau ngga. ada satu yang mengatakan, ya. akhirnya kita naik bus itu dengan membayar ongkos sebesar RM0,50 sen. tapi ternyata bus itu ngga lewat Stasiun Putrajaya. Mima yang mengikuti rute bus melalui Google Maps akhirnya memutuskan untuk berhenti di halte yang kurang lebih berjarak 700 meter dari stasiun karena bus tersebut melawan arah dari arah ke Stasiun Putrajaya. dari halte itu jalan kaki lah kita sampai Stasiun Putrajaya.

destinasi selanjutnya adalah kembali ke Central Market/Pasar Seni karena ngga keburu kalau mau ke Beryl's Chocolate Kingdom, pusat penjualan coklat Beryl's. Beryl's Chocolate Kingdom tutup jam 6 sementara menurut perhitungan, kita baru akan sampai KL Sentral itu jam 6. belum lagi mencari-cari rutenya kan. yaudah akhirnya diputuskan untuk mencari coklat Beryl's di Pasar Seni aja. dari Stasiun Putrajaya kembali naik KLIA Transit ke KL Sentral, pindah naik LRT ke Stasiun Pasar Seni. hujan rintik-rintik mengiringi perjalanan kita. sebenernya selama di KL kemarin memang yang ditakutkan adalah hujan sih. karena kan November di KL juga musim penghujan dan begitu kita sampai KLIA pun sepanjang perjalanan KLIA - KL Sentral hujan, di Cyberjaya juga hujan. alhamdullah-nya walaupun hujan tapi ngga terlalu mengganggu.

kita benar-benar menghabiskan waktu di Pasar Seni sampai pukul 9an. karena bingung juga kalo menghabisan waktu di KL Sentral mau ngapain. di Pasar Seni bener-bener sampe hampir toko-toko tutup deh. ditambah lagi hujan deras yang mengguyur Pasar Seni bikin kita harus berteduh juga. setelah hujan agak reda kita kembali ke KL Sentral. makan malam, mandi (iya! mandi di toilet umum, dan ini pengalaman pertama gue!), trus duduk-duduk aja di dekat loker penitipan sampai waktu keberangkatan kereta kita ke Gemas. jadwal kereta ke Gemas itu pukul 1.20 malam. nge-gembel banget lah kita :" *tidur di bandara pernah, tidur di musholla warga pernah, dan ini pertama kalinya juga tidur di stasiun kereta.

ngegembel di KL Sentral nunggu KTM ke Gemas :"
 sekitar pukul 1 kita ke peron keberangkatan. ternyata banyak juga yang tidur-tiduran di stasiun KL Sentral. kereta ke Gemas agak delay berangkatnya. udah takut aja sih bakal ditinggal Shuttle Train Gemas - JB Sentral karena jarak kedatangan KTMB ke Gemas dan keberangkatan Shuttle Train ke JB Sentral tidak terlalu lama. jam 2 akhirnya kereta ke Gemas pun berangkat. yeaayy. awalnya saya kira kereta yang akan membawa kita ke Gemas itu mirip-mirip kayak kereta kalo kita mau ke luar kota di Pulau Jawa gitu loh. ternyata malah lebih mirip kayak apa yaa bus malam gitu sih. haha. dingin, tempat duduk lumayan empuk lah dan senderan-nya itu ngga 90 derajat. haha. yang bikin takjub sih pas ada pemberitahuan kalo di kereta itu ada musholla-nya! iya musholla. maap norak, baru tau soalnya di kereta ada musholla. mungkin di Indonesia ada, tapi saya nya tidak tahu.
 siap berangkat ke Gemas
 
perjalanan KL Sentral - Gemas ditempuh selama kurang lebih 2 jam. tiba di Gemas, Shuttle Train ke JB Sentral ternyata masih berdiri cantik di peron sebelah. setengah teler karena ngantuk, kita pun pindah kereta dan 5 menit kemudian kereta sudah melaju membelah rel menuju JB Sentral. kita bertiga yaa melanjutkan tidur yang tertunda.

okaaayyy lanjutannya di part selanjutnya yaa..

see yaw~

gals

malaysia

Sekali Merengkuh Dayung, 2 Negara Terlampaui (Part 1)

Monday, November 28, 2016

Akhirnyaaa setelah segala drama dan ketidakpastian, terlaksana juga perjalanan yang terbilang nekat kali ini. kembali ke Kuala Lumpur sekaligus melancong ke Singapura. ibarat kata, sekali merengkuh dayung, 2-3 pulau terlampaui. eh tapi ini 2 ding. hihi. ah yaaa saya kali ini nggak pergi dengan Donna lagi tapi sama Nadia dan sepupunya, Mima. okaayyy here are the story~

Rabu, 9 November 2016

kenapa diawal saya menulis nekat? karena memang untuk perjalanan kali ini semua serba nekat, tanpa perencanaan bisa dibilang. yaa semua karena ketidakpastian-ketidakpastian yang terjadi sebelum berangkat bikin saya males untuk pergi.

ambil penerbangan Air Asia paling pagi dari Soekarno Hatta ke KLIA2. sudah cukup lama Air Asia mendarat di KLIA2 yang sebelumnya di LCCT (Low Cost Carrier Terminal). sampai di KLIA2 sekitar pukul 9 pagi waktu Malaysia. so far, KLIA2 jauh lebih bagus dari LCCT sih. mulai dari ruangannya yang besar (jauh banget sist jalan mau ke pengambilan bagasinya aja), jauh lebih bersih, sepi (ngga seramai LCCT dulu), dll. setelah makan sebentar di KFC, kita bertiga bergegas menuju pusat kota Kuala Lumpur dengan menggunakan bus. ada beberapa perusahaan bus tapi kita bisa tinggal beli tiketnya aja di konter yang tersedia di dekat Pintu 3 Lantai 1 seharga RM11. setelah menerima tiket tinggal tanya aja ke petugas yang berjaga di dekat pintu bus mana yang menuju KL Sentral (dalam satu tempat itu ada beberapa bus dengan tujuan yang berbeda).


the squad, ki-ka: saya, Nadia, Mima

waktu tempuh KLIA2 - KL Sentral (semua bus yang menuju Kuala Lumpur dari KLIA2 mengakhiri perjalanan di KL Sentral) kurang lebih sekitar satu jam. KL Sentral itu bisa dibilang terminalnya Kuala Lumpur kali yaa. karena di sana tidak hanya melayani rute Bus dari dan ke KL Sentral - KLIA, tetapi juga melayani LRT dan Monorail, KTM keluar kota, dll.

sampai KL Sentral, hal pertama yang kita lakukan adalah menuju konter tiket KTM keluar kota karena kita akan melanjutkan perjalanan ke Singapura via darat. beruntung, ketika di bus menuju KL Sentral saya sempat bercakap-cakap dengan perempuan Melayu dan dia banyak membantu ketika kami hendak memesan tiket.

masalah tiket ke Singapura ini saya agak sedikit ketinggalan informasi sih. ada beberapa kereta yang bisa mencapai Singapura, tetapi yang paling terkenal adalah kereta Senandung Sutra karena melayani sleeper train atau kereta dengan tempat tidur. rupanya kereta ini adalah kereta favorit para traveller yang ingin bepergian ke Singapura via darat. sayang, ternyata untuk memesan tiket ini harus dari jauh hari atau sekitar h-30 keberangkatan. sementara waktu saya searching h-7 sudah penuh. jadi lah di konter tiket kami memesan tiket seadanya dan diberikan tiket KTM yang harus transit 2 kali yakni di Gemas dan JB Sentral. jadi, rutenya itu adalah KL Sentral - Gemas, Gemas - JB Sentral, dan JB Sentral - Woodlands (ngga praktis banget kan). atau opsi lainnya adalah dengan menggunakan bus langsung dari KL - Singapura. dari jauh hari memang teman saya yang tinggal di KL, Galih, bilang kalau lebih cepat jika menggunakan bus kalau mau ke Singapura. tapi kita tetap mau naik kereta untuk membunuh waktu satu malam. dan ini lah yang jujur saja saya sesali kemudian, berasa salah strategi banget deh rasanya. tapi ngga ada cerita dan pengalaman dong kalo ngga ada failed dalam sebuah perjalanan. btw, total harga tiket KTM yang kita beli KL Sentral - JB Sentral itu seharga RM52. sementara tiket dari JB Sentral - Woodlands bisa dibeli on the spot di stasiun JB Sentral.

setelah urusan tiket selesai, kita bergegas menuju hotel yang sudah dipesan via traveloka (dengan harga promo. lucky us) di daerah Chinatown. dari KL Sentral kita pindah ke jalur LRT dan turun di Stasiun LRT Pasar Seni. entah kenapa lokasi ini jadi tempat favorit saya karena dekat dengan beberapa tourist attraction. oh ya nama hotelnya itu Hotel Mandarin Pacific. lokasinya super strategis, ga sampe lima menit jalan kaki ke Stasiun LRT Pasar Seni. cuma 1 menit jalan kaki dari Petaling Street (Chinatown), 5 menit jalan kali dari Kasturi Walk dan Pasar Seni, kurang dari 10 menit jalan kaki ke Dataran Merdeka dan sekitarnya, juga kurang dari 10 menit jalan kaki ke Masjid Negara dan sekitarnya.

untuk keadaan kamarnya, terutama yang kami tempati so far cukup bersih. tapi mungkin karena jarang dibersihkan jadi masih ada kecium bau bau debu gitu. kamar yang kita tempati itu jenisnya triple room dengan kamar mandi dalam. triple room yang kami tempati terdiri dari 1 single bed dan 1 double bed. sama seperti keseluruhan ruangan, kasurnya juga agak sedikit berdebu. kamar mandi cukup bersih. sudah dilengkapi juga juga dengan bathroom ammenities. sayangnya hanging toilet flush-nya rusak dan diganti semacam sumpit gitu untuk menggantungnya.

keadaan kamarnya, abaikan Nadia di sana

ohkaayy setelah naro koper dan istirahat sebentar kita mulai melakukan penjelajahan di Kuala Lumpur. destinasi pertama yang kami datangi adalah Batu Cave, yaitu sebuah kuil yang terletak di perut gunung/bukit. 

untuk menuju Batu Cave dari hotel kita tinggal jalan kaki ke Stasiun KTM Kuala Lumpur. sebuah stasiun kuno yang masih beroperasi hingga saat ini. walaupun stasiun ini agak gelap tapi saya suka banget sama tempat ini. kental dengan nuansa old-nya tapi tetap tidak terlupakan fungsinya. dari Stasiun Kuala Lumpur kita naik KTM ke Stasiun Batu Cave dengan membayar tiket sebesar RM2,5. perjalanan yang ditempuh membutuhkan waktu kurang lebih 45 menit. Batu Cave sendiri terletak di belakang Stasiun Batu Cave, jadi jalan kaki pun tidak membutuhkan waktu yang lama. sayangnya, ketika kami ke sana, 2 dari 3 tangga menuju kuil di atas sedang ditutup untuk dilakukan perbaikan. begitupun dengan patung giant buddha-nya juga sedang dilakukan perbaikan. so sad, kurang puas jadinya. saya menawarkan Nadia dan Mima untuk naik ke atas kuil, namun ternyata mereka tidak mau.

Kereta Tanah Melayu (KTM)

 Stasiun KTM Kuala Lumpur

Batu Cave is under construction

jadi yaa sudah, nggak lama-lama di Batu Cave kita langsung cuss ke destinasi selanjutnya, KLCC Twin Tower. Nadia sih yang ngebet banget ngejar malam di KLCC. karena memang kalau malam hari pemandangan lampu-lampunya bagus banget. ditambah lagi ada air mancur menari.

untuk rute-nya, dari Stasiun Batu Cave kita kembali naik KTM ke Stasiun Kuala Lumpur, harga tiket masih sama yaitu RM2,5. lalu dari Stasiun Kuala Lumpur kita jalan ke Stasiun LRT Pasar Seni untuk naik LRT Ke Stasiun KLCC. harga tiketnya sebesar RM2,1. sampai di KLCC ternyata jam masih menunjukkan pukul 6 sore dan di Kuala Lumpur jam 6 itu masih terang. jadilah kita istirahat dan foto-foto dulu di depan KLCC. puas di depan kita pun pindah ke taman belakang. sampai agak gelap, barulah kita masuk ke dalam KLCC untuk makan malam sembari menunggu air mancur menari. sekitar pukul 8 barulah pertunjukan air mancur menari dimulai. tidak begitu lama memang, mungkin hanya sekitar 15 menit pertunjukkan berlangsung untuk kemudian danau kembali tenang.

menyambut senja di KLCC

wefie
iya iyaa abaikan aja gue-nya. fokus ke twin towernya aja

nah ini dia air mancur menarinya

 
setelah pertunjukan selesai, kita bergegas kembali ke hotel. menaiki rute yang sama ketika hendak berangkat tadi. pukul 9 malam akhirnya kami tiba di hotel. bersih-bersih, solat, istirahat, dan tidurr~

sekian perjalanan hari ini. so far belum ada cerita yang berarti yaa. haha. untuk perjalanan berikutnya ditunggu part selanjutnya yaa. see yaa~

gals

library

Libran Lyfe: a journey of an introvert librarian

Monday, November 28, 2016

Libran Lyfe: a journey of an introvert librarian


Libran Lyfe bukan sebuah blog baru. melainkan blog lama yang direname saja. saya memutuskan untuk mengganti nama dari yang sebelumnya A Cloud's Journey: where the cloud brings you dan acloudsjourney.blogspot.com dengan nama dan alamat blog yang baru. tujuan penggantian nama berikut alamatnya ini simpel sih, saya lebih ingin menunjukkan identitas saya sekaligus sedikit berbagi mengenai dunia yang sejak 2009 saya geluti, perpustakaan. kalo ngga males yaa. haha abis kadang bahasan soal perpustakaan suka serius-serius gitu sih. tapi mungkin akan lebih sering terisi dengan curahan hati sebagai seorang pustakawan kali yaa.

setelah melalui perenungan yang ngga terlalu lama terpilih lah nama Libran Lyfe. ada beberapa nama sih sebenernya yang jadi pertimbangan dan kesemuanya bermuara pada Library/Perpustakaan. Libran Lyfe terpilih karena lebih asik aja diucapkan. Libran adalah kependekan dari Librarian atau Pustakawan. karena nama Librarian terlalu panjang, jadilah saya berinisiatif memendekkannya. punten kalo menyalahi kaedah berbahasa yaa. lalu kenapa lyfe dan bukan life? lyfe di sini punya arti yang sama dengan life, tapi berhubung kata lyfe lagi trend dikalangan anak muda jadilah kata lyfe dipilih. yooii, seorang librarian harus bisa mengikuti perkembangan zaman, dong, termasuk bahasa-bahasa gaul. hahaha.

lalu anak judulnya kenapa a journey of an introvert librarian? karena memang diharapkan kedepannya blog ini bisa jadi catatan perjalanan saya sebagai seorang librarian yang introvert. iyaa, berhubung saya tipe orang yang tertutup tapi kadang pengen juga ngomong tapi ngga pandai menyampaikan lewat lisan, jadilah saya menyampaikan melalui tulisan diblog ini. gituu deh.

iyaakk demikian perkenalan singkat tentang penggantian nama ini. kalian masih bisa melihat ke-alay-an saya dari jaman masih SMA dulu kok karena saya belum memutuskan untuk menghapus atau meng-hide konten-konten lama. 

last but not least, welcome to my blog..

welcome to Libran Lyfe.

warm regards,
gals

library

Get Lost In Bangkok part 5

Friday, March 18, 2016

aaahhh akhirnya selesai juga nulis part terakhir dari rangkaian perjalanan saya dan donna ke Bangkok Agustus lalu. udah basi banget sih emang, tapi rasanya ada yang ngeganjel gitu kalo belum kelar nulisnya. heuheu. Part 5 will be the last part of our journey, kkkk. dont be sad, i will back again with another story of my journey, insya Allah.

Senin, 17 Agustus 2015
Yeaayyy dirgahayu Indonesia yang ke-70 tahun. for the first time of my life, merayakan hari kemerdekaan di luar tanah air. beda pastinya. ngga ada yang namanya bendera merah-putih berkibar, iyaa lah yaaa. da tapi mah di Bangkok ngga perlu nunggu sampai mendekati hari kemerdekaan juga mereka banyak yang memasang bendera negaranya. ngga ada nonton upacara bendera di tv. ngga denger lagu Indonesia Raya berkumandang #soknasionalis hahaha.

baiklah ini adalah hari terakhir saya dan donna di Bangkok. hari ini memang sudah direncanakan akan jadi Library Visit Day. tujuan kita hari ini memang hanya perpustakaan-perpustakaan sekitaran Bangkok saja. tujuan pertama pagi ini adalah National Library of Thailand. berhubung ngga tau bus apa yang harus ditumpangi, kita memutuskan naik taksi. setelah hitung-hitungan memang harga taksi dan tuktuk ke sana itu memang tidak jauh berbeda.

sampai di National Library of Thailand ternyata sebagian gedung perpustakaan sedang direnovasi sehingga berdampak pada koleksi yang dapat diakses. kita jadi cuma akses ke ruangan yang paling umum aja yaitu ruang koleksi umum. untuk aksesnya bebas kok, bahkan kita diperkenankan membawa tas ke dalam ruangan. registrasi bagi pengguna yang baru pertama kali menggunakan perpustakaan cukup mudah yaitu hanya dengan mengisi formulir yang mereka sediakan berikut foto kopi kartu pelajar.

sistem yang diterapkan adalah tertutup. sehingga kita harus lebih dahulu mengetahui buku apa yang hendak kita baca/pinjam di tempat. kita bisa searching melalui katalog online yang tersedia di sana. kemudian tuliskan judul buku berikut nomor panggilnya. barulah setelah itu menghubungi pustakawan terkait untuk kemudian oleh mereka dicarikan buku yang kita maksud. apabila ingin mengembalikan lagi ke tempatnya bisa langsung memberikannya pada pustakawan yang tadi lagi. dan apabila kemudian kita ingin meminjam untuk dibawa pulang kita hanya tinggal membawanya ke bagian sirkulasi saja.


 tampak dalam perpustakaan

sistem perpustakaannya tertutup jadi gabisa bebas aksesnya

buku yang iseng-iseng kami pinjam, tapi lupa yang kartu angka 6 itu fungsinya apa

suasana reading room


tempat mengambil dan mengembalikan buku


circullation desk

saya dan donna hanya melihat-lihat sekilas saja karena kondisi perpustakaan tidak memungkinkan untuk dijelajahi karena sedang renovasi. dua jam berada di sana, kami pun memutuskan untuk keluar dan mencari makan siang karena jam sudah menunjukkan pukul 1 siang. saya dan donna memilih untuk naik taksi lagi ke daerah Ratchatewi. konon katanya di sana ada restoran halal bernama Farida Fatornee. kebetulan juga kita dapet sopir taksi yang asik banget diajak ngobrol, malah mungkin dia yang atraktif mengenalkan sudut-sudut kota bangkok pada kita. sampai-sampai si sopir ini kemudian nawarin kita untuk mengantar ke bandara karena kebetulan malam ini kita memang akan kembali ke Indonesia. karena takut kena scamming, saya dan donna pun menolaknya yang kemudian kita sesali belakangan.

Restoran Farida Fatornee adalah salah satu dari beberapa restoran halal di daerah Ratchatewi, Bangkok. makanan yang dijual adalah makan Thailand dan Melayu. selain itu di daerah Ratchatewi juga ada masjid dan Kedutaan Besar Republik Indonesia sehingga daerah ini bisa dibilang menjadi pusat kebudayaan islam di Bangkok. ngga perlu sok-sokan nginggris di restoran ini karena ternyata si penjualnya lebih mahir berbahasa Melayu dibanding Inggris T.T

setelah perut terisi penuh kami berjalan-jalan di daerah sekitar sana sembari mencari letak Kedubes Republik Indonesia. setelah ketemu pun kita cuma foto di depannya aja karena mau masuk juga kan ngga ada urusan apa pun.


 donna di depan KBRI

jujur aja kita berdua nggak punya tujuan lagi setelah dari National Library dan makan siang di Ratchatewi. cuma sempet kepikiran untuk mampir di dekat Hua Lamphong Station itu ada Perpustakaan gitu. Perpustakaan ini terbuat dari gerbong-gerbong kereta yang sudah tidak terpakai. tempatnya yang asri dan tertutup dengan pohon-pohon rindang pun membuat kita berdua makin tertarik untuk berkunjung dengan salah satu alasannya adalah istirahat sejenak dari panasnya kota Bangkok yang menggila.

tidak lama juga kita di perpustakaan ini dikarenakan ada seekor anjing yan tengah terlelap tidur di dekat pintu masuk gerbong cukup membuat nyali saya dan donna ciut untuk mengeksplor perpustakaan unik ini lebih dalam lagi. kondisi perpustakaan yang sepi juga membuat kami kebingungan untuk mencari informasi terkait perpustakaan ini. hanya sekitar 15 menit kami di sana, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan untuk membeli makanan dan minuman khas Thailand di supermarket terdekat dari hotel tempat menginap.


 perpustakaan dari bekas gerbong kereta

 bagus yaaa eksteriornya

 interior perpustakaan

interior perpustakaan

pukul setengah lima kami sudah kembali ke hotel dan mengambil koper yang sudah kami titipkan sebelumnya karena waktu check out hotel maksimal adalah pukul 12 siang. untunglah pihak hotel berbaik hati mengizinkan kami menitipkan koper. setelah packing kembali, pukul 5 tepat kami berpamitan kepada resepsionis hotel. tukang parkir hotel tersebut berbaik hati memanggilkan kami taksi.

BUT drama dimulai dari sini. hampir 15 menit lebih kami menunggu di dalam hotel namun si tukang parkir tidak kunjung menampakkan hidungnya, apalagi taksi yang dia janjikan. karena takut tidak kekejar akhirnya kami berjalan ke jalanan di depan hotel. si tukang parkir beralasan tidak ada sopir yang mau mengantar entah apa alasannya. saya dan donna akhirnya memutuskan untuk menyetop taksi secara random dan sopirnya mau-mau aja tuh mengantar kita ke Makkasan Station. dari Makkasan Station kami menyambung naik Airport Rail Link sampai Suvarnabhumi Airport.

drama belum selesai. jalanan Bangkok kurang bersahabat dengan kami. yup, kami akhirnya merasakan kemacetan Bangkok yang sesungguhnya. deg-degan banget takut ngga kekejar pesawatnya. ditambah lagi ternyata suasana Makkasan Station sangat ramai sampai-sampai kami tidak kebagian ARL yang pertama ketika kami tiba dan harus menunggu kereta kedua. kurang lebih 45 menit perjalanan, pukul setengah 7 sampailah kami di Airport. berjalan setengah berlari menuju konter check in. mbak-mbak di konter check in-nya pun sudah berkata kalau kami harus bergegas karena terminal keberangkatan kami cukup jauh. pikir kami berdua, sejauh apa sih terminalnya karena anggapan kami akan sama saja seperti di Soekarno Hatta.

meskipun ketika melewati mesin pemindai bagasi saya diminta melepas sepatu karena sepatu saya berjenis sneakers wedges tetapi tidak membutuhkan waktu lama. waktu sudah menunjukkan pukul 7 tepat. dan di sinilah puncak drama terjadi, counter imigrasi. antrian yang mengular sangat panjang membuat saya dan donna keringat dingin. takut-takut ketinggalan pesawat banget. antrian semakin lama semakin maju dan sampailah giliran donna. donna lolos. setelah donna giliran saya dan saya tidak lolos karena tidak berhasil menunjukkan bukti keluar yang berupa kertas kecil yang kita isi di pesawat ketika berangkat lalu distempel di imigrasi ketika datang. karena pada saat paspor dikembalikan pun saya tidak menerima bukti tersebut. saya diminta untuk keluar dari antrian dan mengisi ulang formulir imigrasi tersebut. waktu sudah menunjukkan pukul 7.35. 10 menit lagi pesawat boarding. bayangkan! tangan udah gemeteran parah. saya mengambil nafas dan mencoba mengisi formulir tersebut dengan tenang walaupun hati udah deg-degan ngga karuan, keringet dingin membanjir, dan ah rasanya campur aduk deh.

karena tidak mungkin mengantri dari awal lagi, sudah bisa dipastikan saya dan donna akan ketinggalan pesawat kalau saya mengantri dari awal. saya pun memberanikan diri untuk meminta izin mendahului antrian kepada seorang turis yang melihat fisiknya sepertinya berasal dari India. ia pun mengizinkan saya antri di depannya. ketika mengantri itu, seorang bapak asal Tiongkok di depan saya pun menanyakan masalah saya dan saya jelaskan kalau saya hampir tertinggal pesawat sembari menunjukkan tiket saya. si bapak ini kemudian mengizinkan saya untuk antri di depan dia. Masya Allah rasanya campur aduk bgt. seneng dan bersyukur. bless them, God. saya tidak berhenti mengucapkan terima kasih begitu petugas imigrasi menyetempel paspor saya dan ketika mereka berdua berteriak, "YOU SHOULD RUN!!"

kami bergegas berlari menuju terminal keberangkatan yang dimaksud. dan di sinilah saya menyesal pernah berpikiran sejauh apa sih terminal keberangkatan kami. karena kenyataannya memang sangat jaauuhhhhhh. ada sekitar 500 meter lebih kami berlari. jauh banget kan. ngga ada yang namanya waktu untuk mengagumi kebesaran bandara ini atau sekedar menikmati toko-toko di sepanjang bandara. kami sibuk berlari bahkan beberapa kali menabrak orang yang lewat. bahkan ketika sudah tiba diterminal yang dimaksud pun kami masih harus berlari sampai ujung karena memang letak gate-nya ada di paling ujung terminal. donna menyerah dan menyuruh saya meninggalkannya. halah pokoknya kita drama banget deh! seorang crew dari Tiger pun berjalan sambil memegang tulisan bahwa pesawat kami sudah melakukan final call. saya katakan padanya kalau ada salah seorang teman yang masih tertinggal di belakang. ia pun mengangguk dan menyuruh saya untuk masuk duluan ke pesawat dan dia akan menunggu. tidak lama donna pun muncul, dan ternyata bukan hanya kami berdua yang hampir tertinggal pesawat. masih ada 2 orang lainnya yang juga harus mengalami drama yang saya dan donna alami, almost left by the plane.

sudah bisa dipastikan sih kita berempat jadi pusat perhatian karena datang dalam keadaan nafas tidak stabil alias ngos-ngosan. drama belum berakhir. sepanjang perjalanan Bangkok-Singapura saya mencoba tidur karena kelelahan sehabis berlari tadi, namun gagal dikarenakan beberapa kali turbulensi yang pesawat alami. udah lirik-lirikan sama donna takut kenapa-kenapa, tapi alhamdulillah kami tiba di Changi sekitar pukul 11 malam. kami bermalam di Changi karena penerbangan berikutnya baru akan berangkat pukul 8 pagi keesokan harinya. begitu tiba seperti biasa kami melalui proses imigrasi dan lain-lain. setelah mengaktifkan wifi yang tersedia gratis di bandara, banyak pesan dari keluarga dan teman-teman yang bertanya mengenai keadaan kami. pada saat itu juga kita baru tahu kalau telah terjadi ledakan bom di Bangkok.


 bermalam di Changi

what a busy morning in Changi

syukur nggak pernah berhenti kita ucapkan karena sudah keluar dari Bangkok ketika bom terjadi. jika saja bom tersebut meledak beberapa jam lebih awal, mungkin kami berdua bisa menjadi salah satu korbannya karena siang hari kami memang melewati daerah sana. begitupun ketika terjadi bom susulan di Sathorn Pier beberapa hari kemudian, jika kejadiannya terjadi 3 hari lebih awal bisa jadi juga kami berdua menjadi korbannya. that's why Bangkok adalah perjalanan yang luar biasa untuk saya pribadi. 

Sekian!!!

sampai bertemu lagi di perjalanan lainnya..


baca juga:
1. Get Lost in Bangkok part 1
2. Get Lost in Bangkok part 2
3. Get Lost in Bangkok part 3
4. Get Lost in Bangkok part 4  
 
gals