malaysia

Sekali Merengkuh Dayung, 2 Negara Terlampaui (Part 1)

Monday, November 28, 2016

Akhirnyaaa setelah segala drama dan ketidakpastian, terlaksana juga perjalanan yang terbilang nekat kali ini. kembali ke Kuala Lumpur sekaligus melancong ke Singapura. ibarat kata, sekali merengkuh dayung, 2-3 pulau terlampaui. eh tapi ini 2 ding. hihi. ah yaaa saya kali ini nggak pergi dengan Donna lagi tapi sama Nadia dan sepupunya, Mima. okaayyy here are the story~

Rabu, 9 November 2016

kenapa diawal saya menulis nekat? karena memang untuk perjalanan kali ini semua serba nekat, tanpa perencanaan bisa dibilang. yaa semua karena ketidakpastian-ketidakpastian yang terjadi sebelum berangkat bikin saya males untuk pergi.

ambil penerbangan Air Asia paling pagi dari Soekarno Hatta ke KLIA2. sudah cukup lama Air Asia mendarat di KLIA2 yang sebelumnya di LCCT (Low Cost Carrier Terminal). sampai di KLIA2 sekitar pukul 9 pagi waktu Malaysia. so far, KLIA2 jauh lebih bagus dari LCCT sih. mulai dari ruangannya yang besar (jauh banget sist jalan mau ke pengambilan bagasinya aja), jauh lebih bersih, sepi (ngga seramai LCCT dulu), dll. setelah makan sebentar di KFC, kita bertiga bergegas menuju pusat kota Kuala Lumpur dengan menggunakan bus. ada beberapa perusahaan bus tapi kita bisa tinggal beli tiketnya aja di konter yang tersedia di dekat Pintu 3 Lantai 1 seharga RM11. setelah menerima tiket tinggal tanya aja ke petugas yang berjaga di dekat pintu bus mana yang menuju KL Sentral (dalam satu tempat itu ada beberapa bus dengan tujuan yang berbeda).


the squad, ki-ka: saya, Nadia, Mima

waktu tempuh KLIA2 - KL Sentral (semua bus yang menuju Kuala Lumpur dari KLIA2 mengakhiri perjalanan di KL Sentral) kurang lebih sekitar satu jam. KL Sentral itu bisa dibilang terminalnya Kuala Lumpur kali yaa. karena di sana tidak hanya melayani rute Bus dari dan ke KL Sentral - KLIA, tetapi juga melayani LRT dan Monorail, KTM keluar kota, dll.

sampai KL Sentral, hal pertama yang kita lakukan adalah menuju konter tiket KTM keluar kota karena kita akan melanjutkan perjalanan ke Singapura via darat. beruntung, ketika di bus menuju KL Sentral saya sempat bercakap-cakap dengan perempuan Melayu dan dia banyak membantu ketika kami hendak memesan tiket.

masalah tiket ke Singapura ini saya agak sedikit ketinggalan informasi sih. ada beberapa kereta yang bisa mencapai Singapura, tetapi yang paling terkenal adalah kereta Senandung Sutra karena melayani sleeper train atau kereta dengan tempat tidur. rupanya kereta ini adalah kereta favorit para traveller yang ingin bepergian ke Singapura via darat. sayang, ternyata untuk memesan tiket ini harus dari jauh hari atau sekitar h-30 keberangkatan. sementara waktu saya searching h-7 sudah penuh. jadi lah di konter tiket kami memesan tiket seadanya dan diberikan tiket KTM yang harus transit 2 kali yakni di Gemas dan JB Sentral. jadi, rutenya itu adalah KL Sentral - Gemas, Gemas - JB Sentral, dan JB Sentral - Woodlands (ngga praktis banget kan). atau opsi lainnya adalah dengan menggunakan bus langsung dari KL - Singapura. dari jauh hari memang teman saya yang tinggal di KL, Galih, bilang kalau lebih cepat jika menggunakan bus kalau mau ke Singapura. tapi kita tetap mau naik kereta untuk membunuh waktu satu malam. dan ini lah yang jujur saja saya sesali kemudian, berasa salah strategi banget deh rasanya. tapi ngga ada cerita dan pengalaman dong kalo ngga ada failed dalam sebuah perjalanan. btw, total harga tiket KTM yang kita beli KL Sentral - JB Sentral itu seharga RM52. sementara tiket dari JB Sentral - Woodlands bisa dibeli on the spot di stasiun JB Sentral.

setelah urusan tiket selesai, kita bergegas menuju hotel yang sudah dipesan via traveloka (dengan harga promo. lucky us) di daerah Chinatown. dari KL Sentral kita pindah ke jalur LRT dan turun di Stasiun LRT Pasar Seni. entah kenapa lokasi ini jadi tempat favorit saya karena dekat dengan beberapa tourist attraction. oh ya nama hotelnya itu Hotel Mandarin Pacific. lokasinya super strategis, ga sampe lima menit jalan kaki ke Stasiun LRT Pasar Seni. cuma 1 menit jalan kaki dari Petaling Street (Chinatown), 5 menit jalan kali dari Kasturi Walk dan Pasar Seni, kurang dari 10 menit jalan kaki ke Dataran Merdeka dan sekitarnya, juga kurang dari 10 menit jalan kaki ke Masjid Negara dan sekitarnya.

untuk keadaan kamarnya, terutama yang kami tempati so far cukup bersih. tapi mungkin karena jarang dibersihkan jadi masih ada kecium bau bau debu gitu. kamar yang kita tempati itu jenisnya triple room dengan kamar mandi dalam. triple room yang kami tempati terdiri dari 1 single bed dan 1 double bed. sama seperti keseluruhan ruangan, kasurnya juga agak sedikit berdebu. kamar mandi cukup bersih. sudah dilengkapi juga juga dengan bathroom ammenities. sayangnya hanging toilet flush-nya rusak dan diganti semacam sumpit gitu untuk menggantungnya.

keadaan kamarnya, abaikan Nadia di sana

ohkaayy setelah naro koper dan istirahat sebentar kita mulai melakukan penjelajahan di Kuala Lumpur. destinasi pertama yang kami datangi adalah Batu Cave, yaitu sebuah kuil yang terletak di perut gunung/bukit. 

untuk menuju Batu Cave dari hotel kita tinggal jalan kaki ke Stasiun KTM Kuala Lumpur. sebuah stasiun kuno yang masih beroperasi hingga saat ini. walaupun stasiun ini agak gelap tapi saya suka banget sama tempat ini. kental dengan nuansa old-nya tapi tetap tidak terlupakan fungsinya. dari Stasiun Kuala Lumpur kita naik KTM ke Stasiun Batu Cave dengan membayar tiket sebesar RM2,5. perjalanan yang ditempuh membutuhkan waktu kurang lebih 45 menit. Batu Cave sendiri terletak di belakang Stasiun Batu Cave, jadi jalan kaki pun tidak membutuhkan waktu yang lama. sayangnya, ketika kami ke sana, 2 dari 3 tangga menuju kuil di atas sedang ditutup untuk dilakukan perbaikan. begitupun dengan patung giant buddha-nya juga sedang dilakukan perbaikan. so sad, kurang puas jadinya. saya menawarkan Nadia dan Mima untuk naik ke atas kuil, namun ternyata mereka tidak mau.

Kereta Tanah Melayu (KTM)

 Stasiun KTM Kuala Lumpur

Batu Cave is under construction

jadi yaa sudah, nggak lama-lama di Batu Cave kita langsung cuss ke destinasi selanjutnya, KLCC Twin Tower. Nadia sih yang ngebet banget ngejar malam di KLCC. karena memang kalau malam hari pemandangan lampu-lampunya bagus banget. ditambah lagi ada air mancur menari.

untuk rute-nya, dari Stasiun Batu Cave kita kembali naik KTM ke Stasiun Kuala Lumpur, harga tiket masih sama yaitu RM2,5. lalu dari Stasiun Kuala Lumpur kita jalan ke Stasiun LRT Pasar Seni untuk naik LRT Ke Stasiun KLCC. harga tiketnya sebesar RM2,1. sampai di KLCC ternyata jam masih menunjukkan pukul 6 sore dan di Kuala Lumpur jam 6 itu masih terang. jadilah kita istirahat dan foto-foto dulu di depan KLCC. puas di depan kita pun pindah ke taman belakang. sampai agak gelap, barulah kita masuk ke dalam KLCC untuk makan malam sembari menunggu air mancur menari. sekitar pukul 8 barulah pertunjukan air mancur menari dimulai. tidak begitu lama memang, mungkin hanya sekitar 15 menit pertunjukkan berlangsung untuk kemudian danau kembali tenang.

menyambut senja di KLCC

wefie
iya iyaa abaikan aja gue-nya. fokus ke twin towernya aja

nah ini dia air mancur menarinya

video
 
setelah pertunjukan selesai, kita bergegas kembali ke hotel. menaiki rute yang sama ketika hendak berangkat tadi. pukul 9 malam akhirnya kami tiba di hotel. bersih-bersih, solat, istirahat, dan tidurr~

sekian perjalanan hari ini. so far belum ada cerita yang berarti yaa. haha. untuk perjalanan berikutnya ditunggu part selanjutnya yaa. see yaa~

gals

library

Libran Lyfe: a journey of an introvert librarian

Monday, November 28, 2016

Libran Lyfe: a journey of an introvert librarian


Libran Lyfe bukan sebuah blog baru. melainkan blog lama yang direname saja. saya memutuskan untuk mengganti nama dari yang sebelumnya A Cloud's Journey: where the cloud brings you dan acloudsjourney.blogspot.com dengan nama dan alamat blog yang baru. tujuan penggantian nama berikut alamatnya ini simpel sih, saya lebih ingin menunjukkan identitas saya sekaligus sedikit berbagi mengenai dunia yang sejak 2009 saya geluti, perpustakaan. kalo ngga males yaa. haha abis kadang bahasan soal perpustakaan suka serius-serius gitu sih. tapi mungkin akan lebih sering terisi dengan curahan hati sebagai seorang pustakawan kali yaa.

setelah melalui perenungan yang ngga terlalu lama terpilih lah nama Libran Lyfe. ada beberapa nama sih sebenernya yang jadi pertimbangan dan kesemuanya bermuara pada Library/Perpustakaan. Libran Lyfe terpilih karena lebih asik aja diucapkan. Libran adalah kependekan dari Librarian atau Pustakawan. karena nama Librarian terlalu panjang, jadilah saya berinisiatif memendekkannya. punten kalo menyalahi kaedah berbahasa yaa. lalu kenapa lyfe dan bukan life? lyfe di sini punya arti yang sama dengan life, tapi berhubung kata lyfe lagi trend dikalangan anak muda jadilah kata lyfe dipilih. yooii, seorang librarian harus bisa mengikuti perkembangan zaman, dong, termasuk bahasa-bahasa gaul. hahaha.

lalu anak judulnya kenapa a journey of an introvert librarian? karena memang diharapkan kedepannya blog ini bisa jadi catatan perjalanan saya sebagai seorang librarian yang introvert. iyaa, berhubung saya tipe orang yang tertutup tapi kadang pengen juga ngomong tapi ngga pandai menyampaikan lewat lisan, jadilah saya menyampaikan melalui tulisan diblog ini. gituu deh.

iyaakk demikian perkenalan singkat tentang penggantian nama ini. kalian masih bisa melihat ke-alay-an saya dari jaman masih SMA dulu kok karena saya belum memutuskan untuk menghapus atau meng-hide konten-konten lama. 

last but not least, welcome to my blog..

welcome to Libran Lyfe.

warm regards,
gals