malaysia

Sekali Merengkuh dayung, 2 Negara Terlampaui (part 4)

Monday, December 26, 2016

the last part :" so far ini perjalanan tersingkat tapi penuh drama dan ketidakpastian. kalo ditanya mau coba lagi liburan Malaysia-Singapur via darat? MAUUKK!! karena masih banyak tempat yang belum sempat didatangi (syediihh :")

Sabtu, 12 November 2016

okeeiii hari terakhir di Singapura, nih (buat gue, nggak buat Nadia dan Mima). harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. jadiiii kenapa ini hari terakhir buat saya tapi nggak buat Nadia dan Mima. ya itu salah satu drama sebelum keberangkatan :". saya dan Nadia sudah booking tiket dari jauh hari untuk kepulangan tanggal 13 November siang. yaa emang manusia hanya bisa berencana, Allah juga yang menentukan semuanya. ndilalahnya, tanggal 13 itu saya ada tes, yasudah terpaksa ya reschedule kepulangan jadi tanggal 12 malem.

oke! back to da topic! hari terakhir pokoknya ga boleh ada waktu yang terbuang sia-sia. harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. pagi-pagi bangun kesiangan, walhasil solat subuh-nya pas matahari udah terbit. setelah mandi dan solat, sekitar jam 8 kita cuss ke destinasi pertama yaitu Jalan Haji Lane.

Jalan Haji Lane menjadi salah satu tourist attraction di Singapura dan terkenal dengan street art-nya. sebenarnya Haji Lane ini hanya sebuah jalan kecil (gang kalau boleh dibilang) yang penuh dengan kafe-kafe, juga toko-toko yang anak muda banget lah. kalau datang sore atau malam hari mungkin tempat ini akan super ramai, tapi pada saat itu kita datang pagi hari sehingga toko-toko dan kafe di sana masih pada tutup. yaa emang ngga ngejar itu-nya, tapi ngejar foto-foto di street art yang banyak tersebar di tembok-tembok sepanjang Jalan Haji Lane. rutenya itu dari Stasiun Little India langsung aja naik MRT Jalur Hijau dan turun di Stasiun Bugis.


salah satu street art yang terkenal di Haji Lane
street artist
 berhubung dari hotel kita belum sempat sarapan akhirnya memutuskan untuk beli sarapan dulu di satu-satunya toko yang sudah buka di Haji Lane yaitu 7eleven. daaannn drama pun terjadi~ ketika Nadia mau bayar makanannya, dia ngubek-ngubek tasnya dan ngga nemuin dompetnya. mau dicari kayak apa juga ditasnya yang kecil itu ga bakal ketemu secara itu dompet ukurannya lumayan besar. panik dong semua. sempet mikir dicopet tapi ngga mungkin lah ya soalnya setelah diinget-inget itu ngga ada orang yang mepet-mepet doi pas di jalan maupun di MRT. dan dugaan terkuat sih jatoh karena ni anak emang agak ceroboh soal ini. jadi tiap abis beli tiket MRT, nadia tuh ngga pernah langsung ngerapiin uang, dompet dan tasnya dulu sampe bener baru ninggalin ticket machine. hobinya dia itu setelah tiket ditangan langsung pergi dari ticket machine sambil ngerapiin uang, dompet dan tasnya. jadi dia ngerapiinnya tuh sambil jalan gitu.

meskipun napsu makan udah setengah menguap tapi yaa sayang juga udah dibayar makanannya. daripada mubazir mending makan dulu baru kemudian memikirikan solusi soal dompetnya nadia, kan. kalo udah kenyang biasanya otak tuh lebih jalan yaa :p. setelah sarapan kita menyusuri jalan kembali ke Stasiun Bugis tapi sampai di dalam stasiun pun kita ngga menemui keberadaan dompet itu. pun ketika bertanya langsung ke bagian informasi, mereka juga tidak mendapatkan laporan penemuan dompet dan kita malah di arahkan ke bagian informasi lain (tempat di mana kemungkinan dompet tersebut hilang/jatuh). hopeless lah. nadia malah udah meminta saya dan mima untuk melanjutkan perjalanan sementara dia nunggu aja di hotel. lah abdi mana tegak :"

kita pun menelusuri kemungkinan lain. mungkin saja kan dompet tersebut jatuh di Stasiun Little India mengingat waktu di Stasiun Little India, nadia juga sempat mengeluarkan dompet untuk narik uang di atm. setelah meninggalkan nomor yang dapat dihubungi di informasi Stasiun Bugis, kita pun bergegas membeli tiket kembali ke Stasiun Little India. selagi jalan menuju peron menuju Stasiun Little India tiba-tiba ada seseorang yang memanggil nama nadia beberapa kali. setelah berbalik ternyata seorang bapak paruh baya, berwajah India, dengan uban yang banyak menghiasi rambutnya dan tubuh kurus yang memanggil Nadia. beliau kemudian bertanya siapa diantara kami bertiga yang bernama nadia. nadia menjawab kalau dirinya yang bernama nadia. si bapak kemudian menjelaskan apa benar nadia kehilangan dompet sambil menyebutkan ciri-ciri fisik dompet tersebut. nadia mengangguk mengiyakan. si bapak kemudian berkata kalau dompet tersebut ada di kantornya. daaasss nadia jangan ditanya lagi, doi udah berkaca-kaca bahagia gitu. hahaha.

akhirnya kita mengikuti si bapak ke bagian informasi Stasiun Bugis terlebih dahulu untuk minta izin membawa kami ke kantornya. setelah urusan clear di Stasiun Bugis kita mengikuti si bapak ke kantornya di RS Raffles yang jaraknya sangat dekat dengan Exit B Stasiun Bugis. ternyata si bapak ini adalah seorang security di RS Raffles (kami tidak ngeh karena ia memakai pakaian putih hitam, bukan seragam seperti security di Indonesia). ada beberapa orang security di kantor tersebut ketika kami tiba. tapi seingat kami ada 2 orang security lagi yang menghampiri kami dan ikut menjelaskan kejadian penemuan dompet nadia ini.

mereka bilang, mereka didatangi seorang ibu yang mengatakan kalau dia menemukan dompet nadia tersebut di depan Exit B Stasiun Bugis. dan ia membawanya ke pos security terdekat (which is RS Raffles). mereka kemudian menemukan SIM atas nama nadia (KTP Nadia udah hilang sejak di Indonesia, jadi dia cuma punya surat keterangan pengganti KTP sementara). mereka kemudian mendatangi informasi Stasiun Bugis untuk memberitahukan siapa tahu ada penumpang yang kehilangan dompet. dan kebetulan kami pas kembali ke sana.

seorang security kemudian membawa keluar dompet nadia dan memintanya untuk mengecek kembali isinya. dan luar biasanya tidak ada satupun uang atau kartu yang hilang dari dompet tersebut. mereka juga mencatat dengan rinci apa saja yang ada di dalam dompet, bahkan sampai ke bon-bon belanjaan kali yaa saking detailnya. setelah lengkap semua dan tidak ada yang hilang, nadia diminta untuk menandatangani berkas tersebut. ia juga ditanya apa mau menyimpan nomor orang yang menemukan dompetnya atau tidak, just in case wanna say thank you to her. setelah menyimpan nomor orang yang menemukan dompetnya, kita pun melanjutkan perjalanan yang tertunda setelah sebelumnya diceramahi untuk berhati-hati dan tidak teledor lebih dulu oleh para security di RS Raffles.


nadia menandatangani berkas penemuan dompetnya. si bapak paling kanan itu lah yang manggil-manggil doi di Stasiun Bugis

fiuuhhh selesai sudah drama dompet, kita pun kembali ke rencana awal yaitu ke Merlion Park. nggak lengkap yaa kalau ke Singapura tapi ngga berkunjung ke ikon utama negara tersebut. jadi dari Stasiun Bugis kita naik MRT ke Stasiun Raffles Place. ngga lama juga di tempat ini karena hari udah agak siang dan mataharinya mulai panas. jadi begitu dapet beberapa kali foto langsung cuss ke tempat selanjutnya.

in front of Merlion Statue

nyebuurr~

pinginnya sih ke Art Science Museum lalu lanjut ke Garden By The Bay, tapi setelah melihat jam sepertinya tidak memungkinkan bagi saya untuk ngejar ke Art Science Museum lalu ke Garden By The Bay, maka harus ada satu yang dikorbankan. jadilah kita langsung ke Garden By The Bay dan menangguhkan kunjungan (bahasa lo gal :D) ke Art Science Museum. dari Stasiun Bugis naik MRT ke Stasiun Bayfront. menyusuri papan informasi yang mengarah ke Garden By The Bay, tidak sampai 15 menit kita pun tiba di loket masuk Garden By The Bay.

sebenarnya untuk masuk Garden By The Bay tidak perlu membayar tiket. namun ada beberapa yang untuk mengunjunginya kita tetap harus membeli tiket seperti Cloud Forest, Flower Dome, OCBC Skyway, dan Supertree Groove. sebenarnya kalau hanya mau foto-foto di Supertree Groove sih ngga perlu membeli tiket, kecuali kalau mau masuk ke dalamnya dan naik OCBC Skyway.

okaayy jadi kita bertiga beli tiket untuk masuk ke Cloud Forest, Flower Dome, dan naik shuttle ke lokasinya karena jarak dari tempat pembelian tiket ke Cloud Forest dan Flower Dome lumayan jauh. jalan kaki sih enak sambil foto-foto dan lihat-lihat pemandangan kalau ada waktu lebih. sementara saya mengejar waktu agar paling tidak jam 3 sudah kembali ke hotel untuk bergegas pulang, waktu itu.

tempat pertama yang kita masuki adalah Flower Dome. duh ini tempat bikin baper lah tapi sekaligus bikin kangen keluarga. seriusan! yang ada dibenak kita bertiga adalah balik ke tempat ini lagi bareng keluarga masing-masing. tempatnya ramah anak dan manula. asik banget. banyak berbagai macam bunga-bunga dari seluruh dunia. karena November udah bisa dibilang menjelang Christmas jadi temanya yaa tema-tema Christmas dengan bola-bola kaca bersalju, pohon natal, dan lain-lain.

Australian Garden in the Flower Dome

Christmas ambiance everywhere

could you tell me, what kind of flower is this?

and what about these?

the guard cake (?)
 a cute little fairy


setelah dari Flower Dome, tempat berikutnya yang kita masuki adalah Cloud Forest. meskipun terkena sinar matahari dari luar, tetapi karena tempat ini indoor dan ber-AC jadilah tetap dingin di dalamnya. memang maksudnya disetting sesuai dengan hutan hujan tropis khas hutan-hutan Asia. di pintu masuk utama kita akan disambut dengan air terjun buatan yang tingginya mencapai puluhan meter. dan tempat ini mmmm apa ya, romantis (?) :p

Cloud Forest
waterfall
 
feels like entering an other world

exploring the forest

the most enviable moment i ever snap
 
bisa dibilang 2-3 jam menghabiskan waktu di Garden By The Bay agak kurang yaa. apalagi kalau mau mengelilingi keseluruhan tempatnya. seharian mungkin jadi waktu yang pas buat keliling di tempat ini. dan yaa karena saya harus segera kembali ke hotel untuk kemudian pulang ke Jakarta jadi yaaa setelah kurang lebih 2 jam-an di sana kita langsung ke tempat berikutnya yaitu ke Plaza Singapura untuk beli beberapa barang titipan. di sini saya dan Nadia/Mima misah karena mereka berdua udah keliatan lelah jadi daripada ngikutin saya nyari toko yang ngga tau dimananya Plaza Singapura mending mereka duluan aja kembali ke hotel. akhirnya ketemulah tokonya di lantai 4. fyi nama tokonya Miniso, mirip kayak Daisho di Jakarta sih. menjual berbagai macam barang (mulai dari elektronik sampai kosmetik) dengan harga yang lumayan murah. ngga lama di Plaza Singapura langsung balik ke hotel.

beres-beres lalu kemudian cuss berangkat ke bandara. berhubung menurut itung-itungan saya bakal telat kalo naik MRT ke bandara jadi saya memutuskan naik taksi grab (baru tau kalo ternyata aplikasi grab saya langsung berubah mengikuti aplikasi grab singapur begitu di singapur kemarin). lumayan sih kemarin saya naik taksi dari hotel ke bandara itu SGD18. tapi cepet, kurang lebih setengah jam udah sampe di bandara. agak was was sih naik taksi sendirian (di Jakarta aja takut apalagi diluar yaa), tapi yaudah diberani-beraniin aja. aamaann kok tapi, berarti emang gue aja yang parnoan.

okaayyy itu dia perjalanan tersingkat saya. sedikit tips buat yang mau coba nge-trip/backpacking Malaysia-Singapura juga atau sebaliknya:
1. kalau mau pakai jalur darat lebih cepat naik bus dibanding kereta (kurang lebih Malaysia-Singapur 4 jam). ini kita dapet informasi ini selain dari teman yang tinggal Malaysia juga pas lagi nunggu Mima di imigrasi sempat ketemu orang Indonesia yang temennya juga ditahan di imigrasi. akhirnya kita ngobrol-ngobrol gitu dan dia melakukan perjalanan darat dari Malaysia ke Singapur naik bus. dari Kuala Lumpur katanya jam 7 pagi dan jam 11an siang udah sampai di Woodland.
2. kalau mau pakai jalur darat naik kereta lebih baik pesan dari jauh-jauh hari (h-30) biar nggak perlu dapet kereta yang mesti transit-transit. repot soalnya. perjalanannya lebih lama sedikit dari naik bus. kita naik KTMB dari Kuala Lumpur-JB Sentral memakan waktu 5 jam. meskipun dari JB Sentral-Woodland hanya 5 menit tapi jangan lupa hitung waktu yang terbuang untuk menunggu shuttle train ke Woodland-nya.
3. lebih baik mulai perjalanan dari Kuala Lumpur lebih dulu baru ke Singapuran. karena harga tiket kereta dari Kuala Lumpur ke Singapura dan Singapura ke Kuala Lumpur sebenarnya sama cuma beda mata uang aja. nah tapiiii kalau dirupiahin beda jauh. misalnya gini, tiket kereta dari Kuala Lumpur ke Singapura itu harganya RM52, nah dari Singapura ke Kuala Lumpur SGD52. sama-sama 52 tapi beda mata uang. gitu sih.
itu aja sih sedikit saran yang bisa jadi pertimbangan kalian kalau mau melakukan perjalanan darat ke dua negara tersebut.

happy travelling~

gals

malaysia

Sekali Merengkuh Dayung, 2 Negara Terlampaui (part 3)

Wednesday, December 07, 2016

spoiler: banyakan cerita dibanding gambar. karena segala drama di Singapur dimulai di part ini :"

Jum'at, 11 November 2016

setelah malam panjang yang dihabiskan di dalam kereta (btw, shuttle train dari Gemas - JB Sentral mirip-mirip kayak kereta ke Jawa kok, ngga sempet foto-foto karena ngantuk berat), kurang lebih pukul stengah 8 kita tiba di JB Sentral. tidak beda jauh dengan suasana di KL Sentral. sepagian ini, suasana stasiun sudah ramai oleh orang-orang yang hendak ke Singapura maupun ke wilayah lain di Malaysia. Nadia antri untuk membeli tiket Shuttle Train ke Woodlands, wilayah Singapura, seharga RM5 per orang. setelah tiket ditangan ternyata kita dapat keberangkatan jam 11 siang. masih cukup lama dari waktu kedatangan. kita menghabiskan waktu dengan mandi (untuk kedua kalinya mandi di toilet umum :") dan mencari sarapan yang susah banget mendapatkannya karena hari masih terlalu pagi dan banyak konter makanan yang masih tutup, kecuali roti-rotian.

jam 10 kita memutuskan untuk menunggu kereta di peronnya. dan di sinilah drama dimulai. emang ya, kalo ngga tau itu jangan malu buat bertanya dengan yang lebih tau atau orang sekitar lah paling ngga. jadi ceritanya, kita mau ke peron kereta yang menuju ke Woodlands. ngeliat orang-orang pada jalan ke stasiun sebelah, kita pun ngikutin mereka aja. ternyata itu adalah gedung imigrasi yang mau keluar Malaysia. setelah cap keluar kita dapatkan, kita berjalan masih mengikuti orang-orang tersebut. tapi tiba-tiba perasaan saya ngga enak gitu. kok kayaknya ini bukan ke arah peron kereta deh. ngeliat papan informasi di sana pun ngga ada tanda-tanda mengarahkan ke peron kereta gitu, adanya mengarahkan ke bus yang menuju Singapura. arrgghh..

ditengah kebingungan kita (maju bingung, mundur udah gabisa lah yaa secara paspor udah dicap keluar dari Malaysia), tiba-tiba seorang bapak menghampiri kami dan bertanya tentang kesulitan kami. kami pun menceritakan kesulitan yang dialami. si bapak ini ngasih tau kalo untuk naik shuttle train kita ngga perlu keluar dari stasiun JB Sentral tadi, kalau tempat kita berdiri sekarang itu terminal JB Sentral. nasi sudah jadi bubur, udah ngga bisa balik lagi, yaudah tinggal buburnya aja dikasih rasa biar ngga anta anta banget. si bapak mengajak kita mengikutinya ke peron bus untuk kemudian naik bus menuju Singapura (bye bye RM5 yang sia-sia :").

ada beberapa jenis bus untuk menuju Singapura. tapi jujur aja saya ngga terlalu merhatiin, terlalu bergantung sama si bapak. akhirnya kita naik bus yang namanya Causeway Link jurusan Kranji (iyaa! percaya gak lo jurusannya Kranji. emang lo pikir Bekasi doang yang punya Kranji? :p), harga perorangnya RM2. daaannn kita dibayarin sama si Bapak (nggak tau namanya jadi manggilnya si bapak - si bapak aja). perjalanan JB Sentral - Woodlands tuh dekeett banget ngga sampe 15 menit kita udah sampe di Woodlands. perjalanannya agak macet gitu karena mobil-mobil, bus, dan kendaraan lainnya harus antri untuk pemeriksaan. untuk penumpang bus harus turun di jalanan untuk kemudian berjalan ke Woodlands Checkpoint.

Woodlands Checkpoint adalah salah satu pintu masuk ke negeri Singa. di dalam Woodlands Checkpoint, giliran orang-orangnya yang harus antri untuk mendapatkan cap masuk Singapura. kita langsung menuju antrian yang agak sedikit jumlah antrinya (sesedikit-sedikitnya antrian tetep aja butuh waktu setengah jam buat dapet cap itu :"). kita diharuskan mengisi form kedatangan yang ada di salah satu sudut imigrasi. lagi-lagi di sini si Bapak yang banyak membantu kita. beliau yang mengarahkan kita untuk mengisi form tersebut dan memberitahukan hal-hal penting yang harus kami lakukan setelah memasuki wilayah Singapura karena si Bapak sepertinya terlihat buru-buru. kami manggut-manggut mendengar penjelasan beliau dan banyak-banyak mengucapkan terima kasih sebelum beliau pergi meninggalkan kami.

setelah si Bapak pergi, petualangan kami pun dimulai. selesai mengisi form kedatangan, kita kembali ke baris antrian. butuh waktu setengah jam lebih untuk saya mendapatkan cap imigrasi sebagai tanda diperbolehkannya memasuki wilayah Singapura. Nadia sudah lebih dulu mendapatkan dan menunggu di teras depan imigrasi. yang kedua keluar adalah saya. sudah menunggu lebih dari setengah jam, Mima tidak kunjung keluar. kami melihat ke dalam melalui pintu keluar (tidak diperbolehkan menunggu di dalam), tidak ada tanda-tanda Mima di baris antrian. Nadia mengenali salah seorang kakek yang mengantri tepat di belakang Mima sudah keluar dari imigrasi. waduh, jangan-jangan Mima ketahan di imigrasi. karena imigrasi Singapura memang terkenal dengan ketatnya. sebelumnya, ada satu orang Malaysia di depan saya yang juga ditahan imigrasi setelah menunggu lama di loket imigrasi.

ada kurang lebih 3 jam, barulah Mima keluar dari imigrasi. dan ternyata benar, Mima ditahan di imigrasi karena ada perbedaan tanggal lahir dengan nomor KTP (di sini gue baru tahu kalo hal ini ternyata punya pengaruh besar). saya pikir nomor KTP itu yaa ngga ada hubungannya dengan tanggal lahir. karena ditahannya Mima di imigrasi bikin semua itinerary hari ini ngga ada yang terlaksana. prioritas utama yaa yang penting Mima cepet keluar dulu sih. setelah Mima keluar kami langsung menuju tempat antri bus untuk melanjutkan perjalanan ke Stasiun MRT Kranji. oh yaa kalo ketinggalan bus yang sebelumnya kita naiki ngga masalah kok selama kita masih memegang tiket sebelumnya. kita bisa naik bus lain yang satu armada dengan bus sebelumnya. seperti contohnya kami yang harus menunggu Mima selama 3 jam tentu saja ketinggalan bus yang sebelumnya kita naiki, tapi kita masih bisa naik bus Causeway Link lainnya selama masih memegang tiketnya.


ini tiket bus Causeway Link kita, punten udah jelek. punya Nadia soalnya :p

sampai Stasiun MRT Kranji kita segera membeli tiket menuju Stasiun Little India, karena kami menginap di salah satu hotel dekat Stasiun Little India. untuk menuju Stasiun Little India dari Stasiun Kranji kita harus berpindah jalur MRT di Stasiun Dhoby Ghaut terlebih dahulu. btw, waktu di Stasiun Kranji saya berpapasan dengan seorang lelaki paruh baya, a little bit Chinese (jadi saya mikirnya dia orang lokal Singapur), jalan sambil nyanyi lagu Tanah Airku. penting ngga? ngga penting ya? hahaha takjub aja sih saya kenapa ada orang yang tau lagu itu. apalagi saya mikirnya si bapak orang lokal sana kan melihat fisik wajahnya.

turun di Stasiun Little India, ngga tau banget keluar lewat exit mana, yang penting keluar dulu aja dari stasiun. setelah nyebrang jalan, baru ngeliat kalo ada exit yang lebih deket. kita menyusuri jalan menuju hotel yang sudah dibooking via internet sebelumnya. nama hotelnya adalah Hangout Hotel.

Hangout Hotel terletak di Upper Wilkie Road, Singapura. kurang lebih jalan kaki 10 menit dari Stasiun Little India melewati Mount Emily Park. Sebelumnya, kita sudah booking kamar jenis twin room untuk 2 malam karena ketika memesan kamar itu rencananya yang akan pergi hanya saya dan Nadia tanpa Mima. Mima baru join dengan kita beberapa hari menjelang keberangkatan. karena twin room hanya untuk 2 orang jadilah kami meminta additional bed ketika check in. tapi ternyata untuk kamar twin room di Hangout Hotel tidak bisa menambahkan extra bed dan harus upgrade room jadi kena tambahan SGD40 + biaya deposit SGD20.

saya menyesalkan ngga ngambil gambar suasana hotelnya sih yaa karena udah keburu capek dan banyak rencana perjalanan yang gagal. tapi garis besar bisa dilihat diwebsite-nya langsung disini.  kamarnya cukup besar. dan yang paling penting bersih (pake banget), wangi, kamar mandi dalem, ac-nya bisa diatur sendiri. ada ruangan untuk santai juga di lantai 2. overall hotel ini super recommended. cuma 1 kekurangannya, untuk menuju hotel ini kita harus lewat jalanan yang menanjak. dah itu doang! kalo diminta untuk menginap di sini lagi mungkin saya akan mengiyakan kalau waktu stay di Singapur lebih lama dan lebih santai ngga terburu-buru seperti kemarin.


Lobby-nya Hangout Hotel
ini kamar yang kita tempati

suasana hotel yang super nyaman bikin saya males sebenernya untuk menjelajah Singapura, cuma mengingat waktu stay yang singkat jadi mau ngga mau masih capek pun dijabanin aja deh jalan lagi. tujuan pertama adalah Art Science Museum yang terletak di Marina Bay Sands. kalo kata Nadia, kalau mau ke Marina Bay Sands naik MRT turun di Stasiun Marina Bay. dari Stasiun Little India pindah jalur di Stasiun Dhoby Ghaut (setelah dipikir-pikir lebih enak cari penginapan di sekitar stasiun ini deh, lebih strategis kayaknya).sampai di Stasiun Marina Bay, kita mengikuti petunjuk menuju Marina Bay Sands yang ternyata diarahkan untuk pindah jalur lagi untuk turun di Stasiun Bayfront. ternyata memang kalau mau ke dalam Marina Bay Sands-nya lebih baik turun di Stasiun Bayfront karena dia letaknya tepat berada di bawah Marina Bay Sands.

tiba di Marina Bay Sands, kita pun menyusuri mall menuju Art Science Museum. sayangnya begitu sampai di Art Science Museum mereka sudah mau tutup 1 jam lagi dan last admission-nya 10 menit yang lalu. aaahhh sayang sekali. akhirnya kita duduk-duduk di sektiar Marina Bay Sands sambil memikirkan destinasi selanjutnya. Nadia menyarankan untuk ke Orchard Road lalu ke Chinatown untuk beli oleh-oleh. jadilah kita ke Orchard Road sekaligus makan malam untuk kemudian ke Chinatown.

dari Stasiun Bayfront kita naik MRT lagi, pindah jalur di Stasiun Marina Bay untuk selanjutnya ke Stasiun Orchard. begitu sampai di Orchard, woaaa Natal masih lebih dari satu bulan lagi tapi suasana Natal sudah sangat berasa di Orchard. ditandai dengan banyaknya ornamen-ornamen dan lampu-lampu bertemakan Natal tersebar di sepanjang Orchard Road. jalan kaki menyusuri Orchard menuju 313 Somerset untuk makan sushi yang katanya enak banget dan murah (kata Mba Dini) di Singapur. btw namanya Sushi Express. begitu tiba di Sushi Express cuma bisa kaget karena ternyata antriannya luar biasa panjang. sepertinya Sushi Express ini udah sangat viral di Singapur kali yaa sampe segitu ramainya. ada kurang lebih 15 menit kita mengantri untuk menikmati sushi yang enak tersebut. harga perpiringnya itu kurang lebih SGD2 sudah termasuk tax. menurut saya must try-nya adalah sashimi-nya yang seger banget dan cheese cake-nya (kata Mba Dini) sayangnya saya ngga tergoda untuk nyobain cheese cake-nya.
daya tarik Orchard dikala malam. lampuuuww..


pffttt :p
Orchard banget sist
Sushi Express
 
antriannyaaa :"
 
nom nom nom

setelah kenyang makan malam, kita melanjutkan perjalanan ke Chinatown untuk berburu oleh-oleh. beruntung, ketika tiba di sana hari sudah cukup larut dan banyak toko yang juga hampir tutup sehingga toko-toko tersebut banyak yang memberikan diskon ekstra. yeaayy. sekitar pukul 10 kita pun kembali ke hotel karena sudah terlalu malam dan badan juga udah rentek banget.

cerita selanjutnya di part 4 yaa..

gals

malaysia

Sekali Merengkuh Dayung, 2 Negara Terlampaui (part 2)

Monday, December 05, 2016

okaayyy langsung aja yaa lanjuutt~

Kamis, 10 November 2016

beruntungnya kami, Hotel Mandarin Pacific menyediakan sarapan (yeaayyy hemaatt). jadilah, pagi ini kami keluar kamar agak pagi, pukul 9 dan kemudian bergegas menuju restoran hotel untuk sarapan. variasi menunya cukup banyak. kalau mau makan berat bisa makan semacam mie gitu, entah apa namanya, sementara kalo mau makan yang agak ringan ada roti bakar, omellete, coco crunch, salad, dll. tenang aja makanannya enak-enak kok, dan Insya Allah halal karena ngga disajikan makanan berupa daging-dagingan sih.

tujuan kami hari ini ada beberapa tempat dan pagi ini dimulai dengan jalan kaki menyusuri Petaling Street. Petaling Street ini terkenal juga sebagai salah satu pusat perbelanjaan yang terdiri dari puluhan kios. yang banyak dijual di sini selain souvenir khas Malaysia, juga pakaian, sepatu, tas dengan brand-brand terkenal namun dibandrol dengan harga yang cukup murah. tapi, kalau pagi hari sih jangan harap mereka sudah buka ya. daya tarik Petaling Street dipagi hari menurut saya adalah asik buat foto-foto terutama di gapura yang bertuliskan Petaling Street. kalau malam sih jangan harap bisa foto sign-nya, jalan saja sulit saking ramainya.

Petaling Street, ga beda jauh lah sama Pasar Baru :D

dari Petaling Street kita melanjutkan perjalanan ke Pasar Seni. niatnya tentu saja nyari oleh-oleh karena Pasar Seni merupakan pusat souvenir Malaysia terbesar dan bisa dibilang terlengkap juga di Kuala Lumpur. karena kita tiba di Pasar Seni masih cukup pagi, jadilah masih banyak toko-toko yang tutup. akhirnya saya menyarankan ke Nadia untuk mendatangi Pasar Seni lagi nanti malam sembari menunggu kereta ke Gemas. Nadia setuju dan kita melanjutkan lagi perjalanan ke wilayah Dataran Merdeka.

dari Pasar Seni cukup jalan kaki saja, tidak sampai 10 menit sampailah di Dataran Merdeka. di Dataran Merdeka ada beberapa tourist attraction yang dapat dikunjungi. karena keterbatasan energi (keburu capek jalan kakak), kami hanya sempat mendatangi beberapa tempat. ada museum baru rupanya di dekat Dataran Merdeka, namanya Muzium Muzik Malaysia. disebelahnya ada tempat yang terkenal dengan sign I 💙 KL, Kuala Lumpur City Gallery. lalu ada juga Perpustakaan Umum Kuala Lumpur, Gedung Sultan Abdul Samad, kalau mau agak jalan sedikit kita bisa juga sampai di Masjid Jamek, salah satu masjid terkenal di Kuala Lumpur. btw, sekarang masuk KL City Gallery bayar RM5 yang bisa dijadikan deposit kalau kita mau beli souvenir di sana.

salah satu yang dipamerkan di Muzium Muzik Malaysia

cikgu dan murid-muridnya

Kuala Lumpur Art Gallery
 
future KL

tempat pembuatan 

sayangnya sewaktu kami ke sana, Perpustakaan Umum Kuala Lumpur sedang renovasi. padahal saya cukup menanti-nantikan kesempatan untuk berkunjung ke Perpustakaan ini lagi setelah tiga tahun berlalu. cuaca yang mulai memanas membuat kami kehilangan selera untuk berjalan-jalan disekitar sini. setelah melihat jam pun sudah hampir menunjukkan pukul setengah sebelas. karena jam 12 sudah harus check out, jadilah kami memilih kembali ke hotel untuk packing. pukul 12 kurang sedikit kita pun check out dari Hotel Mandarin Pacific.

Dataran Merdeka
Gedung Sultan Abdul Samad
Royal Selangor Club
 
tujuan kita berikutnya adalah Putrajaya. ini saya sih yang ngebet ke Putrajaya karena 3 tahun lalu ngga kesampean ke tempat ini. dari pusat Kuala Lumpur ada beberapa opsi yang bisa digunakan kalau mau ke Putrajaya. pertama, bisa naik bus langsung dari KL - Putrajaya. kedua, naik taksi. dan ketiga, naik KLIA Transit. kita memilih opsi ketiga untuk ke Putrajaya, yaitu naik KLIA Transit. KLIA Transit sebenarnya adalah layanan kereta dari dan menuju Bandara KLIA. ada 2 jenis KLIA Train sebenarnya, yaitu KLIA Transit dan KLIA Express. KLIA Express itu keretanya dari KL Sentral langsung menuju Bandara KLIA tanpa berhenti-berhenti. sementara KLIA Transit sama-sama memiliki tujuan akhir Bandara KLIA tapi berhenti dibeberapa stasiun seperti Stasiun Bandar Tasik Selatan, Stasiun Putrajaya dan Cyberjaya, Stasiun Salak Tinggi, dan Stasiun KLIA dan KLIA2. 

okaay setelah menitipkan tas di loker yang banyak tersedia di KL Sentral, kita bergegas membeli tiket KLIA Transit menuju Stasiun Putrajaya dan Cyberjaya seharga RM14. oh yaa soal loker ini, kalian bisa menemukannya di KL Sentral, letaknya di belakang tangga yang menuju ke toilet, dekat 7 eleven. ukuran loker juga beragam begitupun dengan harganya mulai dari RM10 - RM20. loker ini bisa disewa seharian sampai pukul 12 malam. waktu itu, kami menyewa loker yang seharga RM20 itu muat 2 koper besar dan 1 tas jinjing besar.

 loker koper di KL Sentral (the pic doesn't belong to me, i take it from internet)

Nadia dan Mima di dalam KLIA Transit. jadi tempat duduk di KLIA Transit itu ada yang hadap-hadapan

kurang lebih 30 menit kita tiba di Stasiun Putrajaya dan Cyberjaya. ternyata, untuk menuju pusat kota Putrajaya tidak cukup hanya dengan jalan kaki saja karena letaknya agak jauh. ada bus Nadi Putra yang bisa kita naiki dan berhenti di beberapa halte bus di sekitar Putrajaya. beruntungnya, kemarin itu Nadia punya teman yang kerja di daerah Cyberjaya. jadi lah Nadia menghubungi temannya ini. kebetulan dia lagi istirahat lunch gitu. berhubung kita juga belum makan siang, jadi kita memutuskan untuk makan siang bareng dan dia ngajakin makan di daerah Cyberjaya. entah apa lah nama resto-nya yang jelas restoran arab gitu. setelah makan siang, karena temennya Nadia (punten lupak namanya :") harus kerja lagi setelah itu, kita pun didrop di Masjid Putra, Putrajaya.

 hujan di Cyberjaya

jadi, Putrajaya dan Cyberjaya ini kotanya deketan gitu. naik mobil juga ga sampe 15 menit. and there's no traffic! kotanya sepi banget. dan menurut temennya Nadia ini juga Putrajaya dan Cyberjaya itu ramainya ya kalau weekdays gitu karena Putrajaya dirancang hanya untuk pusat pemerintahan dan Cyberjaya itu kayak pusat perusahaan teknologi gitu kali yaa. jadi yaa yang banyak itu karyawan-karyawan aja. kalo weekend banyak yang pulang ke rumah masing-masing, apalagi hari libur, katanya sepi banget.

di Masjid Putra kita numpang sholat zuhur dijamak bareng ashar. liat-liat keadaan masjid. trus jalan-jalan di sekitar masjid. bosen karena gitu-gitu aja, kita memutuskan untuk menyudahi perjalanan di Putrajaya dan kembali ke KL karena Nadia pengen ke Beryl's Chocolate Kingdom. karena tadi kita diantar, jadi kurang tahu gimana-gimana-nya naik bus di Putrajaya. sepi banget ngga ada tanda-tanda bakal ada bus umum gitu. rata-rata bus pariwisata. tanya ke bagian informasi, katanya memang ada bus yang lewat ke Stasiun Putrajaya kok. akhirnya kita pun menunggu di tempat yang diberitahukan oleh orang di pusat informasi tadi. lama banget dan saya memilih untuk jalan-jalan ke bagian lain. daripada nunggu diem mending sambil jalan kan. apa gunanya travelling kalo ngga jalan-jalan toh?

ada perpustakaan di Masjid Putra, tapi sayang minim informasi jadi agak males buat masuk.

 tampak depan Masjid Putra

Masjid Putra dari kejauhan

Perdana Putra, Istana Perdana Menteri Malaysia

 Kementerian Kewangan Malaysia

begitu sampai di halte lain kita pun nanya-nanya pekerja setempat dan ditunjukkan kalau bus ke KL ada di seberang jalan (padahal maksudnya bus ke Stasiun Putrajaya). yaudah akhirnya nyebrang dan sempet bingung juga sih harus naik bus nomor berapanya. masih tanya-tanya pekerja di sana dan informasi yang di dapet ga begitu membantu. akhirnya begitu ada bus yang berhenti, Nadia pun bertanya ke si supir apa bus tersebut lewat Stasiun Putrajaya atau ngga. ada satu yang mengatakan, ya. akhirnya kita naik bus itu dengan membayar ongkos sebesar RM0,50 sen. tapi ternyata bus itu ngga lewat Stasiun Putrajaya. Mima yang mengikuti rute bus melalui Google Maps akhirnya memutuskan untuk berhenti di halte yang kurang lebih berjarak 700 meter dari stasiun karena bus tersebut melawan arah dari arah ke Stasiun Putrajaya. dari halte itu jalan kaki lah kita sampai Stasiun Putrajaya.

destinasi selanjutnya adalah kembali ke Central Market/Pasar Seni karena ngga keburu kalau mau ke Beryl's Chocolate Kingdom, pusat penjualan coklat Beryl's. Beryl's Chocolate Kingdom tutup jam 6 sementara menurut perhitungan, kita baru akan sampai KL Sentral itu jam 6. belum lagi mencari-cari rutenya kan. yaudah akhirnya diputuskan untuk mencari coklat Beryl's di Pasar Seni aja. dari Stasiun Putrajaya kembali naik KLIA Transit ke KL Sentral, pindah naik LRT ke Stasiun Pasar Seni. hujan rintik-rintik mengiringi perjalanan kita. sebenernya selama di KL kemarin memang yang ditakutkan adalah hujan sih. karena kan November di KL juga musim penghujan dan begitu kita sampai KLIA pun sepanjang perjalanan KLIA - KL Sentral hujan, di Cyberjaya juga hujan. alhamdullah-nya walaupun hujan tapi ngga terlalu mengganggu.

kita benar-benar menghabiskan waktu di Pasar Seni sampai pukul 9an. karena bingung juga kalo menghabisan waktu di KL Sentral mau ngapain. di Pasar Seni bener-bener sampe hampir toko-toko tutup deh. ditambah lagi hujan deras yang mengguyur Pasar Seni bikin kita harus berteduh juga. setelah hujan agak reda kita kembali ke KL Sentral. makan malam, mandi (iya! mandi di toilet umum, dan ini pengalaman pertama gue!), trus duduk-duduk aja di dekat loker penitipan sampai waktu keberangkatan kereta kita ke Gemas. jadwal kereta ke Gemas itu pukul 1.20 malam. nge-gembel banget lah kita :" *tidur di bandara pernah, tidur di musholla warga pernah, dan ini pertama kalinya juga tidur di stasiun kereta.

ngegembel di KL Sentral nunggu KTM ke Gemas :"
 sekitar pukul 1 kita ke peron keberangkatan. ternyata banyak juga yang tidur-tiduran di stasiun KL Sentral. kereta ke Gemas agak delay berangkatnya. udah takut aja sih bakal ditinggal Shuttle Train Gemas - JB Sentral karena jarak kedatangan KTMB ke Gemas dan keberangkatan Shuttle Train ke JB Sentral tidak terlalu lama. jam 2 akhirnya kereta ke Gemas pun berangkat. yeaayy. awalnya saya kira kereta yang akan membawa kita ke Gemas itu mirip-mirip kayak kereta kalo kita mau ke luar kota di Pulau Jawa gitu loh. ternyata malah lebih mirip kayak apa yaa bus malam gitu sih. haha. dingin, tempat duduk lumayan empuk lah dan senderan-nya itu ngga 90 derajat. haha. yang bikin takjub sih pas ada pemberitahuan kalo di kereta itu ada musholla-nya! iya musholla. maap norak, baru tau soalnya di kereta ada musholla. mungkin di Indonesia ada, tapi saya nya tidak tahu.
 siap berangkat ke Gemas
 
perjalanan KL Sentral - Gemas ditempuh selama kurang lebih 2 jam. tiba di Gemas, Shuttle Train ke JB Sentral ternyata masih berdiri cantik di peron sebelah. setengah teler karena ngantuk, kita pun pindah kereta dan 5 menit kemudian kereta sudah melaju membelah rel menuju JB Sentral. kita bertiga yaa melanjutkan tidur yang tertunda.

okaaayyy lanjutannya di part selanjutnya yaa..

see yaw~

gals

malaysia

Sekali Merengkuh Dayung, 2 Negara Terlampaui (Part 1)

Monday, November 28, 2016

Akhirnyaaa setelah segala drama dan ketidakpastian, terlaksana juga perjalanan yang terbilang nekat kali ini. kembali ke Kuala Lumpur sekaligus melancong ke Singapura. ibarat kata, sekali merengkuh dayung, 2-3 pulau terlampaui. eh tapi ini 2 ding. hihi. ah yaaa saya kali ini nggak pergi dengan Donna lagi tapi sama Nadia dan sepupunya, Mima. okaayyy here are the story~

Rabu, 9 November 2016

kenapa diawal saya menulis nekat? karena memang untuk perjalanan kali ini semua serba nekat, tanpa perencanaan bisa dibilang. yaa semua karena ketidakpastian-ketidakpastian yang terjadi sebelum berangkat bikin saya males untuk pergi.

ambil penerbangan Air Asia paling pagi dari Soekarno Hatta ke KLIA2. sudah cukup lama Air Asia mendarat di KLIA2 yang sebelumnya di LCCT (Low Cost Carrier Terminal). sampai di KLIA2 sekitar pukul 9 pagi waktu Malaysia. so far, KLIA2 jauh lebih bagus dari LCCT sih. mulai dari ruangannya yang besar (jauh banget sist jalan mau ke pengambilan bagasinya aja), jauh lebih bersih, sepi (ngga seramai LCCT dulu), dll. setelah makan sebentar di KFC, kita bertiga bergegas menuju pusat kota Kuala Lumpur dengan menggunakan bus. ada beberapa perusahaan bus tapi kita bisa tinggal beli tiketnya aja di konter yang tersedia di dekat Pintu 3 Lantai 1 seharga RM11. setelah menerima tiket tinggal tanya aja ke petugas yang berjaga di dekat pintu bus mana yang menuju KL Sentral (dalam satu tempat itu ada beberapa bus dengan tujuan yang berbeda).


the squad, ki-ka: saya, Nadia, Mima

waktu tempuh KLIA2 - KL Sentral (semua bus yang menuju Kuala Lumpur dari KLIA2 mengakhiri perjalanan di KL Sentral) kurang lebih sekitar satu jam. KL Sentral itu bisa dibilang terminalnya Kuala Lumpur kali yaa. karena di sana tidak hanya melayani rute Bus dari dan ke KL Sentral - KLIA, tetapi juga melayani LRT dan Monorail, KTM keluar kota, dll.

sampai KL Sentral, hal pertama yang kita lakukan adalah menuju konter tiket KTM keluar kota karena kita akan melanjutkan perjalanan ke Singapura via darat. beruntung, ketika di bus menuju KL Sentral saya sempat bercakap-cakap dengan perempuan Melayu dan dia banyak membantu ketika kami hendak memesan tiket.

masalah tiket ke Singapura ini saya agak sedikit ketinggalan informasi sih. ada beberapa kereta yang bisa mencapai Singapura, tetapi yang paling terkenal adalah kereta Senandung Sutra karena melayani sleeper train atau kereta dengan tempat tidur. rupanya kereta ini adalah kereta favorit para traveller yang ingin bepergian ke Singapura via darat. sayang, ternyata untuk memesan tiket ini harus dari jauh hari atau sekitar h-30 keberangkatan. sementara waktu saya searching h-7 sudah penuh. jadi lah di konter tiket kami memesan tiket seadanya dan diberikan tiket KTM yang harus transit 2 kali yakni di Gemas dan JB Sentral. jadi, rutenya itu adalah KL Sentral - Gemas, Gemas - JB Sentral, dan JB Sentral - Woodlands (ngga praktis banget kan). atau opsi lainnya adalah dengan menggunakan bus langsung dari KL - Singapura. dari jauh hari memang teman saya yang tinggal di KL, Galih, bilang kalau lebih cepat jika menggunakan bus kalau mau ke Singapura. tapi kita tetap mau naik kereta untuk membunuh waktu satu malam. dan ini lah yang jujur saja saya sesali kemudian, berasa salah strategi banget deh rasanya. tapi ngga ada cerita dan pengalaman dong kalo ngga ada failed dalam sebuah perjalanan. btw, total harga tiket KTM yang kita beli KL Sentral - JB Sentral itu seharga RM52. sementara tiket dari JB Sentral - Woodlands bisa dibeli on the spot di stasiun JB Sentral.

setelah urusan tiket selesai, kita bergegas menuju hotel yang sudah dipesan via traveloka (dengan harga promo. lucky us) di daerah Chinatown. dari KL Sentral kita pindah ke jalur LRT dan turun di Stasiun LRT Pasar Seni. entah kenapa lokasi ini jadi tempat favorit saya karena dekat dengan beberapa tourist attraction. oh ya nama hotelnya itu Hotel Mandarin Pacific. lokasinya super strategis, ga sampe lima menit jalan kaki ke Stasiun LRT Pasar Seni. cuma 1 menit jalan kaki dari Petaling Street (Chinatown), 5 menit jalan kali dari Kasturi Walk dan Pasar Seni, kurang dari 10 menit jalan kaki ke Dataran Merdeka dan sekitarnya, juga kurang dari 10 menit jalan kaki ke Masjid Negara dan sekitarnya.

untuk keadaan kamarnya, terutama yang kami tempati so far cukup bersih. tapi mungkin karena jarang dibersihkan jadi masih ada kecium bau bau debu gitu. kamar yang kita tempati itu jenisnya triple room dengan kamar mandi dalam. triple room yang kami tempati terdiri dari 1 single bed dan 1 double bed. sama seperti keseluruhan ruangan, kasurnya juga agak sedikit berdebu. kamar mandi cukup bersih. sudah dilengkapi juga juga dengan bathroom ammenities. sayangnya hanging toilet flush-nya rusak dan diganti semacam sumpit gitu untuk menggantungnya.

keadaan kamarnya, abaikan Nadia di sana

ohkaayy setelah naro koper dan istirahat sebentar kita mulai melakukan penjelajahan di Kuala Lumpur. destinasi pertama yang kami datangi adalah Batu Cave, yaitu sebuah kuil yang terletak di perut gunung/bukit. 

untuk menuju Batu Cave dari hotel kita tinggal jalan kaki ke Stasiun KTM Kuala Lumpur. sebuah stasiun kuno yang masih beroperasi hingga saat ini. walaupun stasiun ini agak gelap tapi saya suka banget sama tempat ini. kental dengan nuansa old-nya tapi tetap tidak terlupakan fungsinya. dari Stasiun Kuala Lumpur kita naik KTM ke Stasiun Batu Cave dengan membayar tiket sebesar RM2,5. perjalanan yang ditempuh membutuhkan waktu kurang lebih 45 menit. Batu Cave sendiri terletak di belakang Stasiun Batu Cave, jadi jalan kaki pun tidak membutuhkan waktu yang lama. sayangnya, ketika kami ke sana, 2 dari 3 tangga menuju kuil di atas sedang ditutup untuk dilakukan perbaikan. begitupun dengan patung giant buddha-nya juga sedang dilakukan perbaikan. so sad, kurang puas jadinya. saya menawarkan Nadia dan Mima untuk naik ke atas kuil, namun ternyata mereka tidak mau.

Kereta Tanah Melayu (KTM)

 Stasiun KTM Kuala Lumpur

Batu Cave is under construction

jadi yaa sudah, nggak lama-lama di Batu Cave kita langsung cuss ke destinasi selanjutnya, KLCC Twin Tower. Nadia sih yang ngebet banget ngejar malam di KLCC. karena memang kalau malam hari pemandangan lampu-lampunya bagus banget. ditambah lagi ada air mancur menari.

untuk rute-nya, dari Stasiun Batu Cave kita kembali naik KTM ke Stasiun Kuala Lumpur, harga tiket masih sama yaitu RM2,5. lalu dari Stasiun Kuala Lumpur kita jalan ke Stasiun LRT Pasar Seni untuk naik LRT Ke Stasiun KLCC. harga tiketnya sebesar RM2,1. sampai di KLCC ternyata jam masih menunjukkan pukul 6 sore dan di Kuala Lumpur jam 6 itu masih terang. jadilah kita istirahat dan foto-foto dulu di depan KLCC. puas di depan kita pun pindah ke taman belakang. sampai agak gelap, barulah kita masuk ke dalam KLCC untuk makan malam sembari menunggu air mancur menari. sekitar pukul 8 barulah pertunjukan air mancur menari dimulai. tidak begitu lama memang, mungkin hanya sekitar 15 menit pertunjukkan berlangsung untuk kemudian danau kembali tenang.

menyambut senja di KLCC

wefie
iya iyaa abaikan aja gue-nya. fokus ke twin towernya aja

nah ini dia air mancur menarinya

video
 
setelah pertunjukan selesai, kita bergegas kembali ke hotel. menaiki rute yang sama ketika hendak berangkat tadi. pukul 9 malam akhirnya kami tiba di hotel. bersih-bersih, solat, istirahat, dan tidurr~

sekian perjalanan hari ini. so far belum ada cerita yang berarti yaa. haha. untuk perjalanan berikutnya ditunggu part selanjutnya yaa. see yaa~

gals